LIJIT SEARCH

SUPER DOWNLOAD NO COMMERSIAL LINK / SUPER DOWNLOAD TANPA IKLAN


Website Ini Mendeteksi Alamat IP Anda. This Site Detected Your IP Address.Be Carefull

Surga Belanja Online Anda

Rabu, 16 Mei 2012

Contoh Makalah Penjaskes





KATA PENGANTAR 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan begitu banyak rizki dan hidayah-Nya kepada kita semua. Salawat dan salam selalu kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sebagai Rahmatan lil alamin yang telah membawa umat manusia dari jalan kegelapan menuju kehidupan yang mendapat sinar ifahi. 

Alhamdulillah makalah ini dapat diselesaikan semata-mata atas kehendak-Nya dan rahmat cinta kasih-Nya yang berlimpah. Rasa syukur kami atas kemurahan-Nya karena telah diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. 

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. 

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. 

Dan semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai dengan selesainya makalah ini sehingga dapat bermanfaat bagi semuanya. 

Amin 



Brebes, Desember 2011

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.....................................................................................................................1
B. Identifikasi Masalah.............................................................................................................................1
C. Pembatasan Masalah........................................................................................................................2
D. Perumusan Masalah..........................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Renang...................................................................................................................................3
B. Zaman Kuno.........................................................................................................................................3
C. Abad Pertengahan Hingga Tahun 1800.........................................................................................4
D. Era Olimpiade Modern Setelah Tahun 1896.................................................................................5

1.RENANG GAYA BEBAS ( CRAWL STROKE )

A. Renang Gaya Bebas.........................................................................................................................7
B. Teknik Renang Gaya Bebas............................................................................................................8
C. Beberapa Kesalahan Dalam Renang Gaya Bebas..................................................................10


2.RENANG GAYA DADA ( CHEST STROKE )

A. Renang Gaya Dada.........................................................................................................................11
B. Teknik Gaya Dada...........................................................................................................................11
C. Tips Pemula Gaya Dada...............................................................................................................12
D.Alat Bantu Pemula Belajar Renang..............................................................................................13

3.PROGRAM DAN TAHAPAN LATIHAN RENANG

1. Pemanasan Dan Pendinginan......................................................................................................14
2. Awal Latihan......................................................................................................................................14
3. Program Pemula..............................................................................................................................15
4. Program Intermediate......................................................................................................................15
5. Pertimbangan Membuat Kolam Renang.....................................................................................15

BAB III PENUTUP

A.Kesimpulan.........................................................................................................................................16
B.Saran....................................................................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

Mengapa perlu Olahraga.

Gerak adalah ciri kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak. Apa guna hidup bila tak mampu bergerak. Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup, meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu : Bergeraklah untuk lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih hidup.

Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak (mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak (meningkatkan kualitas hidup). Seperti halnya makan,

Olahraga merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya periodik; artinya Olahraga sebagai alat untuk memelihara dan membina kesehatan, tidak dapat ditinggalkan. Olahraga merupakan alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial.

Struktur anatomis-anthropometris dan fungsi fisiologisnya, stabilitas emosional dan kecerdasan intelektualnya maupun kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungannya nyata lebih unggul pada siswa-siswa yang aktif mengikuti kegiatan Penjas-Or dari pada siswa-siswa yang tidak aktif mengikuti Penjas-Or (Renstrom & Roux 1988, dalam A.S.Watson : Children in Sport dalam Bloomfield,J, Fricker P.A. and Fitch,K.D., 1992).

Olahraga Kesehatan meningkatkan derajat Sehat Dinamis (Sehat dalam gerak), pasti juga Sehat Statis (Sehat dikala diam), tetapi tidak pasti sebaliknya. Gemar berolahraga : mencegah penyakit, hidup sehat dan nikmat ! Malas berolah-raga : mengundang penyakit.

Tidak berolahraga : menelantarkan diri !

Kesibukan dalam kehidupan “Duniawi” sering menyebabkan orang menjadi kurang gerak, disertai stress yang dapat mengundang berbagai penyakit non-infeksi di antaranya yang terpenting adalah penyakit kardio-vaskular (penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke). Hal ini banyak dijumpai pada kelompok usia pertengahan, tua dan lanjut, khususnya yang tidak melakukan Olahraga. Olahraga (Kesehatan): Banyak gerak dan bebas stress, mencegah penyakit dan menyehatkan ! Olahraga adalah kebutuhan hidup bagi orang yang mau berpikir.

Bukan Allah menganiaya manusia, tetapi manusia menganiaya dirinya sendiri ! Pemahaman dan perilaku ini sudah harus ditanamkan sejak usia dini, yaitu semenjak mereka masih di tingkat Pendidikan Dasar, baik di Sekolah Umum maupun di Pondok Pesantren! Cara penyajian Penjas-Or di Sekolah maupun di Pondok Pesantren harus dapat menjadikan siswa/santri menjadi butuh akan Penjas-Or khususnya demi kesehatannya serta dukungan bagi kemampuan belajarnya, sehingga siswa/santri akan selalu menyambut gembira setiap datang mata pelajaran Penjas-Or.

Oleh karena sudah menjadi kebutuhan, maka mereka akan merasa dirugikan manakala mata pelajaran Penjas-Or ditiadakan seperti yang terjadi selama ini bila mereka akan menghadapi ujian akhir. Untuk ini diperlukan guru-guru Penjas-Or yang faham benar akan makna Penjas-Or di Sekolah maupun di Pondok Pesantren.

Konsep Olahraga Kesehatan adalah: Padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 10-30 menit tanpa henti), adekuat, massaal, mudah, murah, meriah dan fisiologis (bermanfaat dan aman) ! Massaal : Ajang silaturahim, ajang pencerahan stress, ajang komunikasi sosial ! Jadi Olahraga Kesehatan membuat manusia menjadi sehat Jasmani, Rohani dan Sosial yaitu Sehat seutuhnya sesuai konsep Sehat WHO ! Adekuat artinya cukup, yaitu cukup dalam waktu (10-30 menit tanpa henti) dan cukup dalam intensitasnya.

Menurut Cooper (1994), intensitas Olahraga Kesehatan yang cukup yaitu apabila denyut nadi latihan mencapai 65-80% DNM (Denyut nadi maximal: 220-umur dalam tahun). Masalah intensitas yang adekuat ini harus menjadi perhatian bila Olahraga Kesehatan telah mencapai Sasaran–3 (lihat Sasaran Olahraga Kesehatan).

Sehat Dinamis hanya dapat diperoleh bila ada kemauan mendinamiskan diri sendiri khususnya melalui kegiatan Olahraga (Kesehatan). Hukumnya adalah : Siapa yang makan, dialah yang kenyang ! Siapa yang mengolah-raganya, dialah yang sehat ! Tidak diolah berarti siap dibungkus ! Klub Olahraga Kesehatan adalah Lembaga Pelayanan Kesehatan (Dinamis) di lapangan.

Dalam kaitan dengan ini maka setiap lembaga Pendidikan Umum maupun Pondok-pondok Pesantren harus juga berfungsi sebagai Lembaga Pelayanan Kesehatan lapangan, dalam rangka program pokok yaitu

Contoh Olahraga Kesehatan berbentuk senam yang dapat mencapai Sasaran-3 (Aerobiks) ialah Senam Pagi Indonesia seri D (SPI-D). Satu seri SPI-D memerlukan waktu 1’45”, sehingga untuk memenuhi kriteria waktu yang adekuat maka SPI-D harus dilakukan minimal 6x berturut-turut tanpa henti, yang akan mencapai waktu 10.5 menit.

Menurut penelitian, bila SPI-D dilakukan dengan sungguh-sungguh maka intensitasnya dapat mencapai tingkat adekuat sesuai kriteria Cooper. SPI-D ini macam gerak dan tata-urutannya sudah berpola tetap sehingga lama-kelamaan Peserta dapat menjadi hafal akan macam gerakan dan tata-urutannya.

Bila Peserta sudah hafal, maka rangsangan terhadap proses berpikir menjadi berkurang. Oleh karena itu senam aerobik pada umumnya yang tidak berpola tetap, adalah lebih baik dalam hal rangsangannya terhadap proses berpikir.

Ciri Olahraga Kesehatan.

Pesantai adalah orang yang tidak melakukan olahraga sehingga cenderung kekurangan gerak. Sebaliknya Pelaku olahraga berat melakukan olahraga lebih dari keperluannya untuk pemeliharaan kesehatan. Maka Pelaku Olahraga Kesehatan adalah orang yang tidak kekurangan gerak tetapi bukan pula Pelaku olahraga berat.

Olahraga yang dianjurkan untuk keperluan kesehatan adalah aktivitas gerak raga dengan intensitas yang setingkat di atas intensitas gerak raga yang biasa dilakukan untuk keperluan pelaksanaan tugas kehidupan sehari-hari (Blair, 1989 dalam Cooper, 1994). Dalam Olahraga Kesehatan, setiap Peserta harus berusaha mengikutinya sebaik mungkin gerak/ instruksi Pelatih, namun tentu harus sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Ciri Olahraga Kesehatan secara teknis-fisiologis adalah :

- gerakannya mudah, sehingga dapat diikuti oleh orang kebanyakan dan seluruh siswa/santri pada umumnya (bersifat massaal), sehingga dapat memperkaya dan meningkatkan kemampuan dan ketrampilan gerak dasar, gerak yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan hidup sehari-hari.

- intensitasnya sub-maksimal dan homogen, bukan gerakan-gerakan maksimal atau gerakan eksplosif maksimal (faktor keamanan).

- terdiri dari satuan-satuan gerak yang dapat (secara sengaja) dibuat untuk menjangkau seluruh sendi dan otot, serta dapat dirangkai untuk menjadi gerakan yang kontinu (tanpa henti) – faktor penting untuk dapat mengatur dosis dan intensitas olahraga kesehatan.

- bebas stress (non kompetitif)

- diselenggarakan 3-5x/minggu (minimal 2x/minggu).

- dapat mencapai intensitas antara 60-80% denyut nadi maksimal (DNM) sesuai umur. DNM sesuai umur = 220 – umur dalam tahun.

Sebaiknya tiap Peserta mengetahui cara menetapkan dan menghitung denyut nadi latihan masing-masing.

Perlu pula dikemukakan bahwa sampai usia sekitar 14 tahun (usia pubertas) tidak perlu ada pemisahan siswa atas dasar jenis kelamin (Watson,1992), karena baru akan berdampak nyata di atas usia tersebut.

Sasaran Olahraga Kebugaran

Sasaran-1: Memelihara dan meningkatkan kemampuan gerak yang masih ada, termasuk memelihara dan meningkatkan fleksibitas dan kemampuan koordinasi.

Sasaran-2 : Meningkatkan kemampuan otot untuk meningkatkan kemampuan geraknya lebih lanjut.

Latihan dilakukan dengan menerapkan prinsip Pliometrik!.

Sasaran-3 : Memelihara kemampuan aerobik yang telah memadai atau me-ningkatkannya untuk mencapai sasaran minimal katagori “sedang”.

Perlu ditekankan sekali lagi bahwa Olahraga Kesehatan adalah gerak olahraga dengan takaran sedang, bukan olahraga berat !

Jadi takarannya ibarat makan:berhentilah makan menjelang kenyang; jangan tidak makan oleh karena bila tidak makan dapat menjadi sakit, sebaliknya jangan pula kelebihan makan, karena kelebihan makan akan mengundang penyakit.

Artinya berolahragalah secukupnya (adekuat), jangan tidak berolahraga karena kalau tidak berolahraga mudah menjadi sakit,sebaliknya kalau melakukan olahraga secara berlebihan dapat menyebabkan sakit !

Keterkaitan Kesehatan, Pendidikan Jasmani dan Olahraga.

Untuk lebih memudahkan bahasannya perlu lebih dahulu dikutip kembali hal-hal yang tersebut di bawah ini :

Kesehatan dan Kesehatan

Sehat merupakan dasar bagi segala kemampuan jasmani, rohani maupun sosial.Memelihara dan meningkatkan kesehatan :cara yang terpenting, termurah dan fisiologis adalah melalui Olahraga.

Acuan Sehat adalah Sehat Paripurna dari Organisasi Kesehatan Dunia.

Pendidikan Jasmani dan Olahraga :

-Pendidikan Jasmani adalah pendidikan dengan menggunakan media kegiatan Jasmani.

-Olahraga adalah pelatihan Jasmani

-Pendidikan Jasmani dan Olahraga adalah Pendidikan dan Pelatihan Jasmani, yang dalam lingkup persekolahan/pesantren berarti Pelatihan Jasmani, Rohani dan Sosial menuju kondisi yang lebih baik yaitu sejahtera paripurna (peningkatan mutu sumber daya manusia).

Olahraga – Gerak :

Gerak adalah ciri kehidupan.

Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup.

Meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup.

- Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk meningkatkan kemampuan gerak yang berarti meningkatkan kualitas hidup.

- Olahraga merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial menuju sejahtera paripurna.

- Hanya orang yang mau bergerak-berolahraga yang akan mendapatkan manfaat dari Olahraga.

- Olahraga Kesehatan :

- Intensitasnya sedang, setingkat di atas intensitas aktivitas fisik dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

- Meningkatkan derajat kesehatan dinamis – sehat dengan kemampuan gerak yang dapat memenuhi kebutuhan gerak kehidupan sehari-hari.

- Bersifat padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 30 menit tanpa henti), mudah, murah, meriah massaal, fisiologis (manfaat & aman).

-Massaal : - Ajang silaturahim à Sejahtera Rohani dan Sosial.

-Ajang pencerahan stress à Sejahtera Rohani

Ajang Kesejahteraan Sosial

Ketiga hal diatas merupakan pendukung untuk menuju Sehatnya WHO yaitu Sejahtera Paripurna.Sehat dinamis adalah landasan bagi pelatihan Olahraga Prestasi.

- Kondisi Pendidikan Jasmani dan Olahraga saat ini.

- Waktu yang tersedia = 2 x 45 menit/minggu

- Sarana – prasarana sangat terbatas

- Kurikulum Penjas-Or lebih berorientasi kepada Olahraga Kecabangan :

1.Cenderung individual dan cenderung mengacu pencapaian prestasi

2.Olahraga prestasi mahal dalam hal :Sarana – prasarana,Waktu, perlu masa pelatihan yang panjang Tenaga dan biaya.

Kesimpulan

Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga Pendidikan harus ditekankan pada olahraga kesehatan dan latihan jasmani untuk meningkatkan derajat sehat dinamis dan kemampuan motorik dan koordinasi yang lebih baik, agar para siswa selama masa belajar memiliki kualitas hidup yang lebih baik, serta dapat diharapkan menjadi atlet berprestasi dan sumber daya manusia yang bermutu di masa depan.

Saran

1.Reorientasi Penjas-Or sebagai program kurikuler perlu ditinjau kembali kaitannya dengan :

Relevansinya dengan kebutuhan siswa / santri.Manfaat yang diharapkan-Kondisi nyata persekolahan :Jatah waktu / jam pelajaran per minggu

2.Sarana – prasarana yang tersedia.

Reposisi Penjas-Or perlu dikembalikan pada posisi dasar fungsinya yaitu:Penggunaan Olahraga/Kegiatan Jasmani sebagai media Pendidikan-Penggunaan Olahraga sebagai alat pelatihan untuk memelihara dan meningkatkan derajat sehat dinamis menuju kondisi Sejahtera paripurna sesuai konsep Sehat WHO.

3.Revitalisasi dan Reaktualisasi Penjas-Or di Sekolah dan Pondok Pesantren dengan orientasi dan posisinya yang baru perlu digalakkan kembali (revitalisasi) dengan menekankan konsep Olahraga Kesehatan (reaktualisasi) sebagai pokok bahasan dan penyajiannya.

Oleh karena durasi pelaksanaan Olahraga Kesehatan cukup 10-30 menit, maka jatah pertemuan 2 x 45 menit/minggu, dapat disajikan sebagai materi untuk 2 x pertemuan/minggu @ 30 menit, sehingga memenuhi persyaratan minimal Olahraga Kesehatan.

4.Kualitas Petugas Keberhasilan misi di tingkat lapangan sangat ditentukan oleh kualitas Petugas serta pemahamannya mengenai makna Penjas-Or bagi Lembaga Pendidikan serta ketulusan dan kesungguhan dalam pengabdiannya.

5.Kebutuhan Penjas-Or di Sekolah dan Pondok Pesantren harus dirasakan sebagai kebutuhan oleh siswa/santri, sehingga mereka akan merasa dirugikan manakala mata pelajaran Penjas-Or ditiadakan.

6.Olahraga prestasi Olahraga kecabangan yang bersifat prestatif perlu pula dikembangkan namun sebaiknya ditempatkan sebagai materi ekstra kurikuler, sebagai tempat penyaluran bakat dan minat siswa/santri.

DAFTAR PUSTAKA PENJASKES


Kleinmann, Theo & Kruber, Dieter. 1990. 
Bola Volley Pembinaan Teknik, Taktik dan Kondisi Pengantar untuk Pelatih/Pendidik. 
Jakarta:PT.Gramedia

Nurhadi. 2002. 
Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)). 
Jakarta:Depdiknas

Nurhasan, 2001. 
Tes dan Pengukuran dalam Pendidikan Jasmani :Prinsip-prinsip dan Penerapannya. 
Jakarta:Depdiknas

Roji. 2004. 
Pendidikan Jasmani untuk SMP Kelas VII. 
Jakarta:Erlangga

Suderajat, Hari.2004. 
Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Pembaharuan Pendidikan dalam 
Undang-undang Sisdiknas 2003. 

Bandung: CV.Cipta 
CekasGrafika
Suherman,Adang.2001. 

Asesmen Balajar dalam Pendidikan Jasmani Evaluasi Alternatif untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. 
Jakarta:Depdiknas

Syarifudin. 1998.
Pokok-Pokok Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Jasmani.
Jakarta : Depdikbud

Umaedi. 1999. 
Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Sebuah Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Sekolah untuk Peningkatan Mutu. 
Jakarta : Depdikbud 2004. 

Kurikulum 2004 Pendidikan Jasmani. 
Jakarta : Depdiknas12 

Reaksi:

Saran Kritik & Komentar

Masukan Nama,E-mail & Komentar Anda,Tentang Produk Dan Layanan Website Kami. Kemudian Klik Submit Untuk Mengirim Komentar. Untuk Mengulangi Formulir,Klik Reset.

Nama Lengkap
E-mail Aktif
Komentar,Saran,Kritik